All for Joomla All for Webmasters
  • Home
  • Berita
  • Latest
  • Menjaga Kesehatan Tanah dengan Penggunaan Agroinput Berbasis Bio Organik
    • Demo

      Pupuk Organo Hayati

      Solusi Lengkap Nutrisi Tanaman
    • Demo

      Biofungisida Hayati

      Pembasmi Jamur Pathogen
    • Demo

      Pupuk Organik

      Mereduksi Pupuk Kimia
    • Demo

      Dekomposer Handal

      Mendekomposisi Bahan Organik
  • TERKINI TOP

    Nogan Trichoderma

    PRODUK TERBARU

    Isolat murni Trichorderma dalam bentuk sangat halus sebagai biofungisida untuk semua jenis tanaman  selengkapnya.

Demo
 

BIOFUNGISIDA NOGAN

Berbahan aktif Trichoderma spp., kendalikan jamur pathogen.

Demo
 

VERMIBIO PLUS

Pupuk Organo Mineral penyedia hara dan penyehat lahan.

Demo
 

DEKOMPOSER EB.DEC

Mengurai bahan organik secara mudah dan dalam waktu singkat.

Demo
 

NOGAN TRICHODERMA

Biofungisida untuk semua penyakit akibat jamur pathogen.

Menjaga Kesehatan Tanah dengan Penggunaan Agroinput Berbasis Bio Organik

COVER MSICover Story Majalah Sawit Indonesia Edisi 32, 15 Juni – 15 Juli 2014

Semakin rendahnya kesehatan tanah menjadi penyebab utama mudahnya tanaman terserang penyakit. Pemakaian pupuk kimia yang bersifat jangka panjang dan dalam jumlah berlebihan terus menerus berdampak negatif kepada tanah dan tanaman. Kalangan pelaku sawit mulai menggunakan pupuk organik sebagai substitusi  sebagian pupuk kimia dalam upaya meningkatkan kesehatan dan kandungan hara di dalam tanah.

Majalah SAWIT INDONESIA berkesempatan mewawancarai Heri DB, Presiden Direktur PT Mitra Sukses Agrindo, perusahaan pupuk dan pestisida yang berbasis kepada bio organik. Sudah ada empat produk yang dipasarkan perusahaan antara lain : PUKON, NOGAN, VERMIBIO dan EbDEC. Seluruh produk ini telah melewati riset dan ujicoba secara intensif oleh tenaga ahli  yang terkait guna memberikan solusi tepat menghadapi masalah di perkebunan seperti serangan ganoderma, rendahnya kesehatan tanah, dan kurangnya nutrisi tanaman. Berikut ini petikan wawancara dengan kami yang berlangsung di kantornya, pada awal Juni:

Di Indonesia, masalah yang dihadapi sektor perkebunan berkaitan dengan menurunnya kesehatan tanah. Mohon dapat dijelaskan?

Begini, tanah subur itu saat ini belum tentu dinyatakan sehat, harusnya memang ada korelasi antara kesuburan tanah dengan kesehatan tanah. Namun sekarang faktanya tidak demikian karena banyak dijumpai tanah subur namun tingkat serangan Ganoderma terhadap tanaman diatasnya cukup signifikan. Tanah yang subur itu sendiri sudah punya indikator berdasarkan analisis kesuburan tanah, misalkan tanah wilayah tertentu masuk kelas 1, 2, 3 atau 4. Sementara beberapa wilayah dengan lahan kelas 1 (satu) pun seperti Sumatera Utara dan Riau ternyata ada yang tidak sehat, hal ini terlihat dari tingkat serangan Ganoderma yang sangat masif dengan kerusakan bahkan ada yang mencapai 40% pada usia tanaman produktif yaitu 8 (delapan) tahun.

Hasil kunjungan kami ke beberapa daerah di Sumatera, pada kenyataannya serangan ganoderma sudah meluas bahkan masuk kategori endemis. Khusus daerah tertentu seperti Sumatera Utara tersebut saya kira penanganannya agak terlambat akibat orientasi perkebunan selama ini hanya produksi tanpa memperhatikan kesehatan tanah.

Oleh karena itu saya tawarkan sebuah konsep yang sangat mendasar yaitu menempatkan aset utama bisnis perkebunan adalah LAHAN yang diikuti dengan orientasi pemeliharaan kualitas lahan yang tercermin dalam struktur organisasi perusahaan misalnya divisi sustainability, dengan demikian bagian organisasi ini akan menghasilkan program-program turunan terkait kesehatan dan kesuburan lahan. Lahan tanaman sawit ini sesuai ketentuan undang-undang bisa digunakan  minimal tiga siklus artinya bisa dipakai selama 90 tahun. Untuk itu harus secara serius kita menjaga dan meningkatan kualitas kesehatan tanah sebagai media tanaman sawit agar kelangsungan usaha dapat dijamin tanpa hadirnya penyakit lahan yang endemis yang dapat merugikan usaha jangka panjang.

Pangkal persoalan berkaitan dengan kesehatan lahan ini adalah keseimbangan ekosistem di dalam tanah yang terganggu, sederhana saja jika musuh alami itu sebelumnya ada di alam, saat ini populasinya sudah tertekan kalah dengan mikroba patogen. Faktornya pemicu memang sangat banyak, salah satunya pemakaian produk kimia secara masif, berlebihan dan terus menerus tanpa ada upaya mengembalikan keragaman hayati dan bahan organik kedalam tanah secara maksimal.

Seperti apa indikator tanah yang masih sehat?

Kesehatan lahan ini sangat terkait dengan mikroba atau keragaman hayati tanah itu sendiri, dan memang tak mudah diketahui. Namun secara umum indikator yang mudah dilihat adalah adanya populasi  cacing yang signifikan. Coba mengunjungi perkebunan sawit di Sumatera pastilah akan sulit menemukan cacing di piringan bahkan hampir tidak ada. Indikator ini  menunjukan penurunan kualitas tanah itu sendiri. Idealnya tanah yang baik, macro fauna seperti cacing itu seharusnya bisa hidup dan berkembang dengan baik

Perkebunan sawit di Sumatera berada di atas generasi kedua. Apakah ini artinya tanah disana sudah kurang sehat?

Saya rasa demikian karena setelah mengunjungi beberapa perkebunan, mereka mengeluhkan munculnya serangan jamur patogen yang diindikasikan Ganoderma. Yang menarik, kalau dulu tanaman mudabelum terjangkiti Ganoderma tetapi sekarang dengan mudahnya terserang. Kondisi ini mestinya diwaspadai pelaku industri sawit khususnya pemerintah dan GAPKI yang memiliki konsep 36/25 atau pencapaian prestasi perkebunan dengan produktifitas 36 ton per ha dan rendemen 25%. Target ini harus diikuti selain intensifikasi adalah upaya serius penanganan Ganoderma secara komprehensif dan terpadu baik pelaku maupun pemerintah.

Pada kenyataannya, kontribusi penurunan produksi akibat kerusakan populasi yang disebabkan Ganoderma sangat nyata, apalagi Ganoderma diduga juga berpengaruh terhadap penurunan rendemen minyak sawit. Tingkat serangan 7 persen saja dalam luasan kebun 10 ribu hektare berarti tingkat kerugian sudah mencapai Rp 20 milliar per tahun, bagaimana dengan kerugian korporasi dengan luasan 100 -500 ribu ha atau kerugian nasional dengan luasan 10 juta ha...? sebuah angka kerugian yang mencengangkan!!!

Apakah ada ciri-ciri khusus tanaman muda yang sudah terserang ganoderma?

Ciri-cirinya sama mau generasi satu, dua, tiga, semua diawali gejala tanaman pucat dan yang lebih parah itu pelepah nekrosis, sengkleh dan daun tombaknya tidak membuka padahal musim hujan. Gejala ini baru ramai dibicarakan lima tahun terakhir, sehingga beberapa kalangan pelaku sawit ketika tanamannya punya gejala seperti itu, mereka masih ragu apakah disebabkan Ganoderma atau bukan, kalau ragu-ragu saya menganjurkan diadakan pemeriksaan oleh pakar yang kompeten terkait Ganoderma, untuk langkah seperti ini kalau divisi sustainibility yang menangani kesehatan lahan sudah dibentuk dan tercermin dalam organisasi, maka akan bisa diambil keputusan lebih cepat.

Ketika berkunjung ke perkebunan sawit di Sampit yang baru masuk generasi satu. Disitu, saya juga menemukan gejala serangan Ganoderma padahal lahannya masih tergolong baru atau ex hutan, sehingga memang nyata bahwa kita harus mulai memperhatikan ekosistem khususnya didalam tanah.

Jadi kalau bicara ekosistem, kita bicara keseimbangan, sebenarnya musuh alami ini seharusnya tersedia di alam dalam jumlah yang cukup, namun karena perlakuan terhadap tanah yang kurang bijak sehingga musuh alami tertekan populasinya dan sebagai akibatnya serangan mikroba patogen menjadi endemis.

Kalau sekarang serangan sampai endemis dengan skala yang besar itu berarti keseimbangan ekosistem sudah terganggu. Disinilah peran produk kami yang dikerjakan dengan teknologi berbasis bio yang dapat mengatasi persoalan kesehatan lahan. Bahan carrier, induser, foodbase  dan strain mikroba diproduksi sendiri dengan standard kualitas tinggi  yang telah diuji mampu mengendalikan serangan ganoderma.

Apakah ada upaya lain untuk menghindari serangan ganoderma terhadap tanaman?

Saran saya buat pekebun yang ingin membuat pembibitan di lahan endemis ganoderma, sebaiknya jangan menggunakan top soil dengan kedalaman 30 cm di atas permuakaan tanah. Pertimbangannya, sulit diketahui apakah tanah itu sudah terinfeksi atau belum. Pada tanah yang tidak sehat itu sumber penyakitnya berada di lapisan 30 cm. Oleh karena itu, tanah yang dipakai harus lebih dalam lagi dibawah  30 cm (sub soil) dan dicampur dengan kompos matang. Di buku teori, kita baca harus ditanam pada  top soil karena lebih subur, tapi top soil kalau tidak sehat seperti sekarang ini ya  cari masalah baru.

Sebelum masa replanting, ada baiknya pekebun mengerjakan analisa tanah minimal lima tahun sebelumnya. Lalu dilakukan pula langkah  perbaikan kesuburan dan kesehatanlahan selama 5 tahun sebelum replanting dimulai dengan cara mensubstitusi sebagian pupuk kimia dengan pupuk berbasis bio pH tinggi, mengembalikan jangkos dalam bentuk kompos matang dan memasukkan biofungisida berbasis Trichoderma yang berkualitas. Saat ini pekebun telah  menerapkan analisa daun setiap tahun tetapi  jarang melakukan analisa untuk melihat kesuburan dan kesehatan tanah, padahal kegiatan ini sangatlah penting untuk mengetahui kualitas lahan. 

Mohon dijelaskan seperti apa produk pupuk yang PT Mitra Sukses Agrindo tawarkan kepada pelaku industri sawit?

Perusahaan kami bergerak dengan spesialisasi produk berbasis bio khususnya untuk produk agroinput perkebunan. Sebagai orang yang bekerja di industri sawit selama 25 tahun lebih, disinilah kami memahami masalah yang dihadapi perkebunan cukup besar dan serius. Itu sebabnya, kami menghasilkan produk biofungisida yang efektif kendalikan Ganoderma karena  biofungisida ini mampu menghancurkan dinding sel Ganoderma secara mematikan. Produk biofungisida ini diberi nama NOGAN.

Keunggulan NOGAN antara lain strain Trichoderma yang dipilih banyak menghasilkan enzim penghancur Ganoderma, kemudian diformulasi dengan bahan-bahan yang mengandung induser chitin, asam amino, antibiotik dan hormon agar tanaman dapat recovery lebih cepat. Konsepnya disamping mematikan Ganoderma, tanaman akan kembali semakin sehat dan kuat (vigor), dengan demikian ketahanan terhadap penyakit semakin meningkat.

Sebagai praktisi sawit saya menyarankan agar penanganan Ganoderma lebih awal dan komprehensifsehingga tidak hanya mengandalkan pendekatan penanganan setelah muncul fruiting body tapi lebih pada penyehatan lahan jangka panjang, memberikan biofungisida dari media bibitan, TBM dan TM, menggunakan bibit toleran Ganoderma, tidak menggunakan teknik under planting pada saat replanting, melakukan substitusi sebagian pupuk kimia dengan pupuk berbasis bio, memasukkan bahan organik dalam bentuk kompos matang. Paling penting membangun kesadaran  praktisi sawit itu sendiri tentang pentingnya kesehatan lahan dengan meletakkan divisi sustainability kedalam struktur organisasi perusahaan. Hal tersebut harus dilakukan melihat resiko kerugian akibat kerusakan lahan adalah sangat besar, sehingga semua biaya yang timbul terhadap upaya penanganan Ganoderma harus dilihat sebagai bagian dari investasi.

Apakah kesehatan lahan sudah dipersiapkan pekebun sawit?

Menurut saya  belum seluruhnya karena salah satu upaya menyehatkan lahan dengan pemberian bahan organik, pupuk organik, pupuk mikroba, biofungisida ke dalam tanah agar supaya lebih subur dan sehat belum banyak dilakukan. Hal ini ditunjukkan dengan fakta bahwa kenyataanya tanah yang sebelumnya kelas satu pun jika dianalisa dari C-organiknya sudah turun, tanah semakin asam dan tidak sedikit lahan yang terinfeksi Ganoderma.

Dari kunjungan ke beberapa tempat di Jawa, Sumatera, dan Kalimantan ternyata C-organik di dalam tanah  paling tinggi hanya antara 2,0  s/d 2,5 padahal ideal tanah subur bisa mencapai itu 3,0. Artinya, kita harus kembalikan unsur organik ke dalam tanah dan buat saya belum ada langkah yang terprogram dengan baik di perusahaan sawit. Sebagai contoh, pemberian janjang kosong tidak seluruhnya ke areal sawit dengan pertimbangan masalah tranportasi dan lainnya. 

Pendekatan yang saya usulkan adalah memanfaatkan bahan organik dari limbah sawit seperti janjang kosong (jangkos) untuk dijadikan kompos. Perusahaan harus berani mensubtitusi pemakaian pupuk kimia denganpupuk organik atau pupuk bio. Untuk pengomposan  kami telah mendesain dekomposer berbasis fungi yang membantu proses pengomposan secara cepat, bernama EbDEC. Produk ini dirancang khusus untuk membantu pengomposan jangkos sawit. Pekebun cukup menaburkan dekomposer ini di atas tumpukan jangkos dan tidak perlu diaduk seperti dekomposer berbasis bakteri. Kemudian disiram dan tutup terpal, maka dalam waktu 5-7 minggu, kompos sudah jadi dan matang yang selanjutnya tinggal disebar ke kebun. Keuntungan pengembalian jangkos dalam bentuk kompos matang adalah coverage area nya bisa 10 kali lipat dibandingkan jangkos mentah, dimana dosis jangkos mentah 60 ton/ha, sementara setelah jadi kompos cukup 6 ton/ha

Pemerintah merekomendasikan pemberian pupuk organik di sektor pertanian. Seperti apa dukungan perusahaan terhadap kebijakan ini?

Nilai pH tanah yang semakin turun ini membuat ekosistem tidak seimbang karena peran mikroba tertentu tidak maksimal atau bahkan tidak aktif. Di dalam tanah, pH harus dinaikkan  yang biasanya memakai kapur dan dolomit. Semua produksi pupuk organik atau pupuk mikroba dari kami  berbasis pH tinggi antara 8,0 - 8,5, dengan demikian sangat mendukung upaya perbaikan kualitas lahan sejalan dengan kebijakan pemerintah.

Produk yang kami tawarkan adalah pupuk organik bermerek VERMIBIO yang bahan bakunya berbasis sekresi dan lendir cacing yang dapat dikolaborasikan dengan pupuk kimia dengan jumlah pengurangan pupuk kimia sekitar  30-40 persen. Sementara itu, produk organo hayati kami lainnya yaitu PUKON, dengan PUKON maka jumlah pupuk kimia dapat ditekan sampai 20-30 persen. Di dalam PUKON ini, sudah dimasukkan mikroba khusus yang  lebih efektif memperbaiki struktur tanah.

Standar sawit berkelanjutan yang dikeluarkan RSPO dan ISPO juga menekankan pelaku sawit mengurangi produk berbahan kimia dan kembali memakai produk yang ramah lingkungan seperti pupuk organik. Disinilah saya melihat, kebutuhan industri sawit terhadap pupuk organik dan pupuk bio akan semakin tinggi. Kondisi ini juga sejalan dengan  masyarakat  kita yang menginginkan makanan sehat dari produk-produk organik.

Dapat dikatakan PT Mitra Sukses Agrindo  berupaya memberikan solusi untuk mengatasi persoalan agronomi di perkebunan sawit?

Benar, keempat produk kami memang disiapkan untuk itu. Awal terbentuknya perusahaan ini memang disiapkan untuk menjawab persoalan  perkebunan khususnya sawit, sehingga 90% pasar kami adalah perkebunan. SDM kami terdiri tidak hanya pakar riset dari perguruan tinggi ternama khususnya terkait bio teknologi, tanah dan tanaman tetapi juga para praktisi sawit yang berpengalaman rata-rata lebih dari 15 tahun, sehingga kami sangat mengerti tentang budaya kerja kebun, sehingga disain produk tidak hanya memenuhi kriteria efektif tapi juga aplikatif sehingga lebih efisien. Selain itu, kami bekerjasama dengan pakar lain yang berkompetensi di bidangnya untuk melakukan verifikasi bahan aktif dll. Adapula kerjasama dengan badan penelitian lain sehingga tidak perlu khawatir tentang kualitas. Produk yang dihasilkan adalah produk berkualitas tinggi atau bukan produk abal-abal.

Ke depan, kami berupaya mengembangkan produk lain seperti pestisida dan herbisida organik misalkan untukmengatasi persoalan ulat api dan untuk pemberantasan gulma gawangan.

Sebelum mendirikan perusahaan, Pak Heri bekerja dimana? Lalu latar belakang pendidikan apakah dari pertanian?

Saya lulusan IPB pada tahun 1983, termasuk angkatan 16  kemudian tahun 2004 saya mengambil S-2 di MB-IPB, studi  S-1 saya Fakultas Teknologi Pertanian dan S-2 Magister Manajemen. Lulus kuliah, langsung masuk ke Astra Agrobisnis, sekarang namanya Astra Agro Lestari. Selama 12 tahun lamanya, saya bekerja di Astra. Setelah itu, pindah ke Kencana Agri dan bekerja selama 13 tahun. Saya hanya bekerja di dua perusahaan tersebut, dan semuanya berkecimpung di sektor perkebunan sawit dengan total masa kerja sudah 25 tahun.

Sebelum bergabung di Kencana Agri, saya sudah merencanakan untuk bekerja 10 tahun saja karena sudah ada niatan membangun bisnis sendiri. Ternyata, saya bekerja sampai 13 tahun dan ketika saya mundur dari perusahaan tersebut saya sudah bulat untuk membangun usaha bersama teman yang juga dari Astra Group. Pemilihan partner lebih didasari oleh kesamaan kultur dan passion serta perbedaan kompetensi yang bisa saling mengisi.

Saya membangun bisnis pupuk ini yang bersentuhan dengan sektor perkebunan. Mengingat, kompetensi saya memang di bidang ini. Pupuk ini sangatlah strategis posisinya di perkebunan karena biaya produksi itu hampir 60-70% dipakai pemupukan. Dalam satu tahun, biaya pupuk untuk perusahaan dengan perkebunan sawit seluas 100 ribu hektare dapat mencapai Rp 700 miliar. Ke depan, bisnis pupuk berbasis bio dan organik akan sangat menjanjikan. Untuk itu, kami siap berkompetisi dengan menghasilkan produk berbasis riset, dan kata kunci nya adalah penguatan SDM khususnya R/D. (Qayuum Amri)

Pin It

LOGO GUMPALIN

PRODUK DALAM RISET
Penggumpal Getah Karet Organik

LOGO RND

Riset dan Pengembangan

LOGO OKAS

PRODUK DALAM RISET
Obat Kering Alur Sadap Karet

Statistik Pengunjung

0299475
Hari ini
Kemarin
Minggu ini
Minggu lalu
Bulan ini
Bulan lalu
Total
344
140
484
1728
4645
8147
299475

Forecast Today
480

8.13%
23.76%
5.32%
1.45%
0.16%
61.18%

Your IP:54.145.16.43

Informasi & Pelayanan

Tel. 0251-834 9528 / 831 2843
Mobile. 0813 737 00279 / 0811 810 699
 
Head Office:Perkantoran Bukit Gading Indah A23
Jl. Bukit Gading Raya, Jakarta Utara 14240
Tel. 021-458 45985 / 458 46249 Fax. 021-451 3648
Factory: Jl. KH Soleh Iskandar No.59 Bogor 16166
Tel. 0251-834 9528 / 831 2843 Fax. 0251-0251-831 2770

Distributor Resmi